Scroll untuk membaca artikel
Senin, 23 Januari 2023 | 06:30 WIB

Munajat Syekh Abdul Qadir al-Jilani di Malam Bulan Rajab

Afgan Dirga
Munajat Syekh Abdul Qadir al-Jilani di Malam Bulan Rajab
Ilustrasi munajat malam (Pixabay)

PURWOKERTO.SUARA.COM - Rajab merupakan satu di antara empat bulan yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'la. Hal ini termaktub dalam firman Allah:

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu (lauhul mahfudz).  Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS at-Taubah: 36)    

Ayat di atas diturunkan sebelum fathu Makkah (pembebasan kota Makkah), saat orang-orang dari Madinah takut berkunjung ke Makkah. Kemudian turunlah ayat di atas yang menjelaskan bahwa jumlah bulan dalam setahun ada 12 bulan. Empat di antaranya adalah haram (mulia). Sesuai konsensus ulama, tiga dari bulan tersebut berdampingan yakni Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram. Sedangkan yang satu lagi berpisah sendiri, bulan Rajab.    

Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam juga menyatakan kemuliaan Bulan Rajab dalam sebuah hadits. Hadits Nabi yang diriwayatkan dari Abi Bakrah, bahwa Rajab itu Mudlar  

Baca Juga:Rahasia di Balik Kemuliaan Bulan Rajab

Artinya: “Sesungguhnya waktu itu berputar sebagaimana saat Allah menciptakan langit-langit dan bumi. Setahun terdapat 12 bulan. Di antaranya ada empat yang mulia. Tiga bulan berturut-turut yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram. Dan Rajab Mudlar yang jatuh antara Jumadal Ula-Jumadal Akhirah dan Sya'ban.” (Sahih Bukhari: 4294)   

Mudlar merupakan satu klan di Arab yang sangat mengagungkan bulan Rajab. Karena perilaku mereka ini, Rasulullah mengistilahkan keagungan Rajab dengan mengacu sebagaimana keagungan yang dilakukan oleh klan Mudlar.   

Menurut sejarah, Ibrahim an-Nakha'i mengisahkan, Rajab merupakan bulan saat Nabi Nuh berlayar bersama kaumnya yang taat. Ia berpuasa secara pribadi serta menyuruh orang yang bersamanya untuk berpuasa juga, kemudian Allah menyelamatkan mereka dari banjir bandang dan Allah melenyapkan kemusyrikan secara total dari muka bumi. Maka dalam Bulan Rajab, umat islam pun disunahkan berpuasa.     

Begitu mulianya bulan Rajab, dikutip dari nu.or.id, Syekh Abdul Qadir al-Jilani (w: 561) pun menuliskan doa ma'tsurat yang digoreskan dalam karyanya al-Ghun-yah. 

Doa ini juga dikutip ulang oleh Habib Muhammad Amin bin Abu Bakar bin Salim dalam kitab Mâ Yuthlab fî Rajab, serta Syekh Muhammad bin Abdullah bin Hasan al-Halabi dalam bukunya Nûrul Anwâr wa Kanzul Abrâr:  

Baca Juga:Perayaan Imlek Berdarah Di LA, 10 Orang Tewas Diberondong Tembakan

Artinya: "Ya Tuhanku, pada malam ini orang-orang yang berpaling (dari rahmat-Mu) telah berpaling, orang-orang yang mempunyai tujuan telah datang (pada-Mu), dan para pencari telah mengharap anugerah dan kebaikan-Mu. Pada malam ini, Engkau mempunyai tiupan rahmat, piagam-piagam penghargaan, aneka macam pemberian  dan  anugerah. Engkau berikan semua itu terhadap hamba-hamba-Mu yang Engkau kehendaki. Dan Engkau tidak memberikannya terhadap orang yang tidak memperoleh pertolongan dari-Mu.    

Inilah aku, hamba-Mu yang sangat berharap pada-Mu, berharap anugerah dan kebaikan-Mu. Apabila Engkau, wahai Tuan kami, telah mengemukakan anugerah-Mu di malam ini terhadap seseorang dari makhluk-Mu, dan Engkau berikan kebaikan padanya dengan berbagai sambungan kelembutan-Mu, maka anugerahkan rahmat atas Nabi Muhammad shalallahu aliahi wasallam beserta keluarganya. Berikanlah atasku dengan kekayaan dan kebaikan-Mu. Wahai Tuhan seru sekalian alam." (Syekh Abdul Qadir bin Shalih al-Jilani, al-Ghun-yah, Drul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1997, juz 1, halaman 328).   

Berita Terkait

Tag

terpopuler

Budaya

Terkini

Loading...
Load More
Ikuti Kami

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda